Skip to main content

Featured Post

Profil Rahma Huda Putranto

Rahma Huda Putranto, S.Pd. adalah Duta Baca Kabupaten Magelang yang   lahir di Magelang, pada tahun 1992, lulus dengan predikat cumlaude dari Jurusan S-1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Negeri Semarang tahun 2014. Kini sedang menempuh Program Magister Manajemen Pendidikan di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Penulis pernah bekerja sebagai guru di SD Muhammadiyah Borobudur. Kemudian mendapat penempatan di SDN Giripurno 2 Kecamatan Borobudur sebagai Pegawai Negeri Sipil. Terhitung mulai tanggal 1 Maret 2018 mendapat tugas baru di SD Negeri Borobudur 1. Alamat tempat tinggal penulis berada di dusun Jayan RT 02 RW 01, Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Selain itu, penulis dapat dihubungi melalui email r_huda_p@yahoo.co.id. Penulis pernah mengikuti program Latihan Mengajar di Universiti Pendidikan Sultan Idris Malaysia selama 3 bulan pada tahun 2013. Penulis meraih peringkat ke-2 tes CPNS Kabupaten Magelang tahun 2014. Ket

Kepercayaan Jangan Melulu Tekstual, Perhatikan Juga Konteks!

Pemahaman lintas disiplin ilmu sangat-sangat dibutuhkan saat ini. Fenomena tidak bisa dihakimi hanya dengan satu disiplin ilmu. Jangankan "men-judge", mendeskripsikan satu fenomena saja membutuhkan lintas disiplin ilmu.

Fenomena keyakinan dan kepercayaan manusia saat ini sudah beralih dalam kepercayaan pada data. Sederhananya, penggunaan uang elektronik. Uang elektronik benar-benar menggeser uang dalam bentuk kepingan emas, logam atau kertas menjadi byte-byte data.

Bagaimana mungkin kini sekarang bisa begitu mudah "menukarkan" uang kertas kita dengan tulisan "Rp 1.000.000" dalam bentuk angka di layar gadget kita?
Kenyataannya ini benar terjadi. Namun, kepercayaan pada data-data digital juga merambah ke kepercayaan kita secara konvensional. Dimana data yang kemudian disimbolkan menjadi teks menjadi sangat kita yakini.

Dalil hasil "copy-paste" pun merasuki arena keyakinan kita. Masuk ke dalam hubungan kemanusiaan kita. Dimana satu pihak bisa meniadakan pihak yang lain hanya karena tafsir tekstual yang disimbolkan dalam data komputer.

Ayolah, sekarang sudah saatnya kita membawa aliran kepercayaan kita tidak hanya pada teks. Namun juga memperhatikan konteks. Saya tidak ingin "memversuskan" teks dengan konteks. Namun mengkolaborasikan keduanya.

Bagaimana dulu Ahmad Dahlan menafsirkan ajaran Agama menjadi gerakan organisasi. Gerakan yang berfokus pada bidang pendidikan, kesehatan, sosial bahkan ekonomi. Itulah tafsir keterpaduan antara teks dengan konteks perjuangan kala itu.

Ada juga Buya Hamka yang kini kita kenal sebagai ulama, sastrawan dan penulis. Bagaimana dulu diceritakan kalau beliau selalu diprotes dengan bahasa kurang lebih seperti ini "ulama kok bicara cinta-cintaan dan roman". Waktu itu kebanyakan menganggap kalau ulama itu mengurusi hukum. Soal halal-haram. Kini kita tahu roman dan novelnya sarat makna akan dakwah.

Dalam mendukung kemajuan zaman, Alhamdulillah kita mengetahui apa yang disebut Bayani, Burhani, dan Irfani. Lebih lanjut, silahkan googling Keputusan Munas Tarjih XXV tentang Manhaj Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam. Dan lagi, ajakan saya ini juga dititipkan pada simbol-simbol data. Hhha

Yaweslah. Intinya saya hanya pengen nulis, jangan terlalu tekstual perhatikan juga konteks. Ini penting biar yang bener itu juga pener. Sudah ya, kopinya keburu dingin.

Padahal masih juga pengen menyampaikan uneg-uneg soal aliran kepercayaan dengan kebudayaan. Kalau soal ini, saya melihat kebudayaan sebagai sarana strategis untuk meluweskan kepercayaan yang kaku karena hukum benar-salah.

Ya ya ya, biar juga aliran kepercayaan kita tidak usang seperti uang kertas di hadapan uang elektronik. Hhhhha, jangan komen pakai dalil copy paste ya..

Comments

Baca Juga