Skip to main content

Featured Post

Profil Rahma Huda Putranto

Rahma Huda Putranto, S.Pd. adalah Duta Baca Kabupaten Magelang yang   lahir di Magelang, pada tahun 1992, lulus dengan predikat cumlaude dari Jurusan S-1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Negeri Semarang tahun 2014. Kini sedang menempuh Program Magister Manajemen Pendidikan di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Penulis pernah bekerja sebagai guru di SD Muhammadiyah Borobudur. Kemudian mendapat penempatan di SDN Giripurno 2 Kecamatan Borobudur sebagai Pegawai Negeri Sipil. Terhitung mulai tanggal 1 Maret 2018 mendapat tugas baru di SD Negeri Borobudur 1. Alamat tempat tinggal penulis berada di dusun Jayan RT 02 RW 01, Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Selain itu, penulis dapat dihubungi melalui email r_huda_p@yahoo.co.id. Penulis pernah mengikuti program Latihan Mengajar di Universiti Pendidikan Sultan Idris Malaysia selama 3 bulan pada tahun 2013. Penulis meraih peringkat ke-2 tes CPNS Kabupaten Magelang tahun 2014. Ket

Paparan Prof Anas Saidi saat Launching Kami Indonesia di Yogyakarta

Prof Anas Saidi (paling kiri) Bersama Kepala dan Deputi UPK PIP (Sumber Foto: Setkab.go.id).
Prof Anas Saidi yang kini menjabat sebagai Deputi bidang Pengkajian dan Materi, Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP Pancasila). Prof Anas pada awal penyampaian materi menampilkan pidato Bung Karno saat berpidato di Sidang PBB. Video ini berlogo "damp i love Indonesia". Prof Anas juga menyampaikan bahwa Bung Karno pada pidato ini, mengkritisi pemikiran filsuf Bernard Russel. Pemikiran Bernard Russel kemudian disandingkan dengan Pancasila.

Korea Selatan (Korsel) dulu kagum dengan Indonesia. Memiliki ideologi seperti pancasila. Dan Korsel menjadikan ideologi negaranya sebagai nafas tindakan. Akhirnya, Korsel sekarang menjadi  negara maju.

Kemajuan sebuah bangsa biasanya ditentukan oleh penguasaan ilmu pengetahuan. Contoh bangsa yang maju adalah Yahudi. Bangsa Yahudi di dunia jumlahnya hanya ada beberapa juta. Namun penguasaan ilmu pengetahuan bangsa Yahudi tidak bisa diragukan lagi. Orang Yahudi yang berhasil meraih nobel ada 112 orang. Sedangkan orang  Islam yang meraih nobel baru  satu orang. Itupun orang yang berlatar belakah Ahmadiyah.

Indonesia, setiap tahunnya menghasilkan wisudawan sejumlah 900ribu. Tapi wisudawan itu ketika tidak berkencimpung di dunia keilmuan, akan kalah dengan bangsa lain.
Sehingga closing statement dari Prof. Anas Saidi adalah "Kunci keberhasilan pemuda ada di membaca, membaca dan membaca".

*Catatan Rahma Huda Putranto, S.Pd. ketika mengikuti Launching Kami Indonesia di
GOR Amongrogo, Yogyakarta, 16 Desember 2017.
Catatan ini merupakan catatan pribadi, apabila ada kekeliruan dalam catatan ini dapat direvisi dalam rangka penyempurnaan

Comments

Baca Juga