Skip to main content

Featured Post

Profil Rahma Huda Putranto

Rahma Huda Putranto, S.Pd. adalah Duta Baca Kabupaten Magelang yang   lahir di Magelang, pada tahun 1992, lulus dengan predikat cumlaude dari Jurusan S-1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Negeri Semarang tahun 2014. Kini sedang menempuh Program Magister Manajemen Pendidikan di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Penulis pernah bekerja sebagai guru di SD Muhammadiyah Borobudur. Kemudian mendapat penempatan di SDN Giripurno 2 Kecamatan Borobudur sebagai Pegawai Negeri Sipil. Terhitung mulai tanggal 1 Maret 2018 mendapat tugas baru di SD Negeri Borobudur 1. Alamat tempat tinggal penulis berada di dusun Jayan RT 02 RW 01, Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Selain itu, penulis dapat dihubungi melalui email r_huda_p@yahoo.co.id. Penulis pernah mengikuti program Latihan Mengajar di Universiti Pendidikan Sultan Idris Malaysia selama 3 bulan pada tahun 2013. Penulis meraih peringkat ke-2 tes CPNS Kabupaten Magelang tahun 2014. Ket

Belajar Mantiq dari Azis Anwar Fachrudin

Mantiq, istilah yang saya peroleh dari situs basabasi(dot)co. Istilah ini mewarnai tulisan kategori esai. Ditulis berseri oleh Azis Anwar Fachrudin. Saya membaca artikel-artikel ini. Dari artikel ini pulalah yang membawa saya ke Youtube Channel "Basa Basi TV."

Basa-Basi TV menampilkan Azis Anwar Fachrudin menyampaikan materi tentang Mantiq. Kalau tidak salah ada 14 seri video. Video ini merupakan rekaman live streaming Azis Anwar Fachrudin ketika mengisi diskusi secara terjadwal di Cafe Basa Basi.

Saya tertarik dengan Mantiq. Terutama dalam istilah dimana Mantiq berfungsi untuk menertibkan pikiran. Posisi Mantiq disini seperti Nahwu (Gramatika) yang digunakan untuk menertibkan bahasa. Dari penjelasan singkat ini jelas sudah, bahwa Mantiq--kalau dibahasakan secara umum, adalah logika.

Mantiq ini menjadi salah satu Trivium. Trivium adalah tiga jenis ilmu pengetahuan yang wajib diajarkan di masa Yunani dulu. Dalam Trivium ini ada Logika, Gramatika dan Retorika. Ketiga hal ini wajib dikuasai oleh orang-orang "berkelas."

Yang saya maksud orang berkelas di Zaman Yunani adalah orang-orang yang tidak berkecimpung/terlibat dalam hal-hal teknis. Inilah yang membedakan orang berilmu waktu itu dengan budak. Budak pada zaman itu lebih digunakan untuk mengerjakan hal-hal teknis. Jadi, perkara filosofis menjadi hal "mewah" yang menjadi ciri orang berkelas.

Mantiq sebenarnya merupakan "ilmu alat." Ilmu Alat apabila disejajarkan dalam dunia pesantren maka akan sepadan dengan nahwu dan sharf. Mantiq konon katanya tidak populer lagi karena dianggap tidak Islami.

Beberapa ulama salaf memang menolak Mantiq. Namun disisi yang lain, tidak sedikit ulama yang mendukung "Mantiq". Terutama Mantiq sebagai ilmu alat. Salah satu pembelaaannya terungkap pada kalimat bahwa mantiq dibutuhkan dalam penyusunan ilmu. Memang, logika dibutuhkan untuk membangun argumentasi yang koheren dan korespondensial.

Sekilas, ketika saya membaca buku Mantiq karya Azis Anwar Fachrudin ini ditemukan sebuah pengetahuan baru--pengetahuan baru bagi saya. Mantiq perlu kita dalami untuk menertibkan pikiran. Mantiq diperlukan untuk membangun argumentasi. Terutama dalam luaran untuk melahirkan pengetahuan baru.

Mantiq akan membawa kita pada sebuah penilaian dimana sesuatu itu bernilai benar/salah. Benar/salah hanya dapat dicapai ketika pada hal-hal tertentu. Benar/salah tidak akan dapat dicapai pada hal-hal yang sifatnya estetika atau etika. Misalnya tentang keindahan, kebaikan, atau perasaan.

Namun, hal-hal tersebut di atas dapat dibawa ke bahasan Mantiq/logika ketika dikaitkan/dinyatakan dalam sebuah kalimat. Contohnya ketika membahas "Faktor yang Mempengaruhi Keindahan Seni Tari pada Unsur Gerak", atau "Dominasi Perasaan yang Timbul Saat Mendengar Berita Bahagia".

Intinya, Mantiq dipelajari untuk menertibkan pikiran. Penertiban pikiran sangat diperlukan di era "banjir" informasi seperti saat ini. Ketersediaan informasi yang tidak terbatas membutuhkan "metode" untuk merangkai pengetahuan-pengetahuan yang ada. Utamanya untuk melahirkan pengetahuan baru.

Rahma Huda Putranto

Borobudur, 13 Desember 2021

Comments

Baca Juga