Writerpreneur: Penulis, Profesi yang Nyaris Tanpa Modal


Bambang Trim menjelaskan secara gamblang "keuntungan" menjadi writerpreneur. 

Keuntungan ini tertulis jelas di awal bab 2 buku Writerpreneur, Panduan Insaf Pekerja Teks Komersial. Wawasan yang selama ini tertutup di lingkaran penulis senior, tersingkap jelas disini.

Seorang writerpreneur mampu "menyulap" 1 rim kertas yang harganya sekitar Rp 30.000 menjadi seharga Rp 30.000.000. 

Dengan hitungan tersebut, satu lembar tulisan harganya mencapai Rp 60.000. Satu halaman ukuran A4 dengan spasi 1,5 dan ukuran 12, biasanya terdapat 300 kata. Maka, satu kata yang dibuat oleh Writerpreneur setara dengan Rp 200.

Zaman digital mengubah kebutuhan kertas fisik menjadi lembar-lembar dalam bentuk digital. Lembar digital diwujudkan dalam bentuk digital dengan format PDF, Word atau Google Docs. Namun hitungan harga tiap halaman masih menjadi ukuran dalam tulisan yang dibuat oleh para penulis.

Lantas apa pengeluaran seseorang yang berprofesi sebagai writerpreneur kalau mencetak tulisan kini sudah tidak relevan? Maka jawabannya nyaris tidak ada modal yang dikeluarkan. Tentu rumusan ini diluar pembelian laptop atau daya listrik.

Kalau seorang writerpreneur ingin menulis di suatu tempat yang baru. Ia bisa pergi ke cafe, restoran atau co-working space. Dimana seorang penulis bisa menulis sembari menikmati kopi, camilan dan makanan. Jadi, modal seorang writerpreneur ya pengeluaran untuk "nongkrong" di tempat menulis tersebut.

Luar biasa ya jadi writerpreneur. Nyaris tanpa modal. Namun nilai finansialnya sangatlah besar.

Namun laku apa tidaknya tulisan dan keterampilan menulis sangat ditentukan bagaimana kita "memasarkan diri". Writerpreneur tidak lepas dari upaya promosi.

Rahma Huda Putranto
Rambeanak, 25 April 2020

Post a Comment

Previous Post Next Post

Ad 2