Skip to main content

Featured Post

Profil Rahma Huda Putranto

Rahma Huda Putranto, S.Pd. adalah Duta Baca Kabupaten Magelang yang   lahir di Magelang, pada tahun 1992, lulus dengan predikat cumlaude dari Jurusan S-1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Negeri Semarang tahun 2014. Kini sedang menempuh Program Magister Manajemen Pendidikan di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Penulis pernah bekerja sebagai guru di SD Muhammadiyah Borobudur. Kemudian mendapat penempatan di SDN Giripurno 2 Kecamatan Borobudur sebagai Pegawai Negeri Sipil. Terhitung mulai tanggal 1 Maret 2018 mendapat tugas baru di SD Negeri Borobudur 1. Alamat tempat tinggal penulis berada di dusun Jayan RT 02 RW 01, Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Selain itu, penulis dapat dihubungi melalui email r_huda_p@yahoo.co.id. Penulis pernah mengikuti program Latihan Mengajar di Universiti Pendidikan Sultan Idris Malaysia selama 3 bulan pada tahun 2013. Penulis meraih peringkat ke-2 tes CPNS Kabupaten Magelang tahun 2014. Ket

Berdiri di Bahu Raksasa

“Berdiri di Bahu Raksasa” merupakan istilah yang muncul ketika membuka Google Scholar. Istilah tersebut kalau dalam bahasa Inggris dituliskan dengan kata “Stand on the shoulders of giants”. Kira-kira, mengapa perusahaan sebesar Google menggunakan istilah ini sebagai semboyan?

“Berdiri di bahu raksasa” dipopulerkan oleh Sir Isaac Newton. Istilah ini ia gunakan dalam surat yang dikirimkannya kepada pesaingnya. Sejarah mengetahui bahwa terjadi rivalitas antara Sir Isaac Newton dengan Robert Hooke.

Beberapa ada yang menafsirkan bahwa “berdiri di bahu raksasa” merupakan komentar sarkastik. Komentar sarkastik dari Sir Isaac Newton kepada Robert Hooke. Para penafsir mengatakan kalau Robert Hooke memiliki perawakan kurus.

Penilaian kalau istilah tersebut sarkastik tidak lepas dari cerita kurcaci dan raksasa. Penglihatan kurcaci yang berada di atas bahu raksasa lebih luas daripada penglihatan raksasa itu sendiri. Secara singkat, penglihatan kurcaci yang berdiri di bahu raksasa lebih baik daripada penglihatan raksasa itu. Oleh karenanya ada kesalingtergantungan antara keduanya.

Terlepas dari apa motif Sir Isaac Newton dan berbagai kisah di baliknya, saya memiliki penafsiran sendiri atas istilah ini. Saya lebih setuju pada penafsiran yang lebih positif terkait istilah “Berdiri di Bahu Raksasa”.

Bila kita ingin menikmati/melihat kemajuan, kita dapat berdiri di atas pemikiran orang-orang besar. Bahu raksasa itu saya ibaratkan sebagai hasil pemikirian dari pada pendahulu. Bisa juga berasal dari pemikir/peneliti besar di masa lalu.

Penyelaman pemikiran membuat seseorang dapat memprediksi apa yang terjadi. Prediksi ini menjadi simbol bahwa kita dapat melihat apa yang akan terjadi. Kita juga memiliki pandangan yang lebih jauh dan lebih luas. Inilah sikap positif saya pada semboyan “Berdiri di Bahu Raksasa”.

Borobudur, 7 Desember 2021

Comments

Baca Juga