Skip to main content

Featured Post

Profil Rahma Huda Putranto

Rahma Huda Putranto, S.Pd. adalah Duta Baca Kabupaten Magelang yang   lahir di Magelang, pada tahun 1992, lulus dengan predikat cumlaude dari Jurusan S-1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Negeri Semarang tahun 2014. Kini sedang menempuh Program Magister Manajemen Pendidikan di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Penulis pernah bekerja sebagai guru di SD Muhammadiyah Borobudur. Kemudian mendapat penempatan di SDN Giripurno 2 Kecamatan Borobudur sebagai Pegawai Negeri Sipil. Terhitung mulai tanggal 1 Maret 2018 mendapat tugas baru di SD Negeri Borobudur 1. Alamat tempat tinggal penulis berada di dusun Jayan RT 02 RW 01, Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Selain itu, penulis dapat dihubungi melalui email r_huda_p@yahoo.co.id. Penulis pernah mengikuti program Latihan Mengajar di Universiti Pendidikan Sultan Idris Malaysia selama 3 bulan pada tahun 2013. Penulis meraih peringkat ke-2 tes CPNS Kabupaten Magelang tahun 2014. Ket

Hal Penting Tentang Inkuiri Apresiatif

Saya menyukai apa yang saya dapat di Minggu ke-7 Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 4 ini. Minggu ke-7 berlangsung pada tanggal 29 November sampai dengan 4 Desember 2021. Minggu ini saya mengalami Demonstrasi Kontekstual, Elaborasi Pemahaman bersama instruktur dan Koneksi Antarmateri. Dari beberapa tahapan metode MERRDEKA tersebut, saya terkesan dengan apa yang saya peroleh saat Elaborasi Pemahaman bersama Instruktur.

Elaborasi Pemahaman kali ini dipandu oleh instruktur yang bernama Robertus Saliman. Robertus Saliman memperkenalkan dirinya sebagai seorang guru di SMP Semi Palar. Ada yang menarik dari riwayat hidup instruktur, ternyata Robertus Saliman awalnya bukan seorang guru yang berasal dari jurusan kependidikan. Ia merupakan seorang lulusan jurusan arsitektur.

Namun, jangan salah sangka. Walaupun Robertus Saliman bukan seorang lulusan jurusan kependidikan, bukan berarti ia tidak bisa atau tidak boleh mengajar. Ia memiliki pengalaman mengajar lebih dari tiga puluh tahun. Pengalaman mengajar ini yang menjadi modal bagi Robertus Saliman untuk menyampaikan materi dan menuliskan modul tentang Visi Guru Penggerak.

Robertus Saliman menjelaskan tentang Inkuiri Apresiatif. Inkuiri Apresiatif yang dimaksud disini merupakan sebuah upaya perubahan yang berpijak pada kekuatan dan hal positif yang pernah dialami. Inkuiri apresiatif seolah mendobrak pemahaman yang selama ini ada.

Selama ini, perubahan diawali dengan analisis masalah. Perubahan pun hanya sekedar mencari dan mengatasi masalah. Maka, perspektif yang timbul pasti ada pada pandangan “pasti ada sesuatu yang salah”. Hal tersebut menyebabkan adanya fokus dan pengalaman emosi yang tidak pas untuk mengawali perubahan. Kita hanya berfokus pada kelemahan dan kesulitan. Sehingga emosi yang timbul adalah negatif.

Berbeda dengan inkuiri apresiatif, Inkuiri Apresiatif diawali dengan upaya identifikasi-apresiasi dan menyelidiki kekuatan/potensi dan/atau aset. Disini jelas, perspektif yang muncul adalah perspektif yang fokus pada apresiasi kekuatan/potensi/aset dalam sistem yang mengandung semangat gotong royong, kokreasi, dan masalah. Pengalaman emosi yang diperoleh adalah positif dan bahagia.

Robertus Saliman mengibaratkan Inkuiri Apresiatif dengan gambar dua orang yang menemui sebuah lubang di atas tanah. Orang yang pertama hanya melihat lubang tersebut. Sedangkan orang kedua melihat sekeliling lubang tanah. Orang kedua melihat dan mencari potensi sekitar yang dapat dimanfaatkan untuk menutup lubang tersebut. Ia melihat gundukan tanah di sekitar yang dapat digunakan untuk menutup lubang. Cerita ini menjelaskan bahwa ada orang yang berfokus pada masalah dan yang berfokus pada potensi/kekuatan yang ada.

Berdasarkan pengalaman di atas, saya simpulkan bahwa Inkuiri Apresiatif adalah suatu filosofi, suatu landasan berpikir yang berfokus pada upaya kolaboratif menemukan hal positif dalam diri seseorang, dalam suatu organisasi dan dunia di sekitarnya baik di masa lalu, masa kini maupun masa depan.

Saya pun melihat Pendidik memiliki peran strategis dalam mewujudkan Profil Pelajar Pancasila. Pendidik merupakan seseorang yang selalu berinteraksi dengan murid. Oleh karenanya, posisi murid berada dalam lingkaran pengaruh seorang guru. Guru dapat memberikan tindakan langsung dan nyata untuk mewujudkan Profil Pelajar Pancasila.

Pada akhirnya, saya merasakan kebahagiaan yang luar biasa karena mendapatkan banyak perspektif baru. Ada hal yang bisa dilakukan setelah memahami Inkuiri Apresiatif, yaitu menerapkan Model BAGJA. Yang perlu dilakukan oleh seorang guru adalah menyusun pertanyaan dan tindakan yang perlu dilakukan. Pertanyaan ini sebagai modal untuk merumuskan prakarsa perubahan. Prakarsa perubahan harus memperhatikan filosofi, nilai-nilai dan visi Profil Pelajar Pancasila. Baru kemudian dibuat dengan lebih rinci dalam Model BAGJA.

Comments

Baca Juga