Skip to main content

Featured Post

Profil Rahma Huda Putranto

Rahma Huda Putranto, S.Pd. adalah Duta Baca Kabupaten Magelang yang   lahir di Magelang, pada tahun 1992, lulus dengan predikat cumlaude dari Jurusan S-1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Negeri Semarang tahun 2014. Kini sedang menempuh Program Magister Manajemen Pendidikan di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Penulis pernah bekerja sebagai guru di SD Muhammadiyah Borobudur. Kemudian mendapat penempatan di SDN Giripurno 2 Kecamatan Borobudur sebagai Pegawai Negeri Sipil. Terhitung mulai tanggal 1 Maret 2018 mendapat tugas baru di SD Negeri Borobudur 1. Alamat tempat tinggal penulis berada di dusun Jayan RT 02 RW 01, Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Selain itu, penulis dapat dihubungi melalui email r_huda_p@yahoo.co.id. Penulis pernah mengikuti program Latihan Mengajar di Universiti Pendidikan Sultan Idris Malaysia selama 3 bulan pada tahun 2013. Penulis meraih peringkat ke-2 tes CPNS Kabupaten Magelang tahun 2014. Ket

Guru Inti PKP, Jadilah Seperti Air!

Setiap malam begadang. Guru-guru ini melewati tengah malam untuk menyelesaikan lembar kerja yang jumlah dan "ke-njlimetannya" wow sekali. Walau tak jarang nyanyian, obrolan absurd sampai curhatan, meluncur bebas ke dinginnya malam asrama Lamda P4TK Matematika.

Semua itu tidak terasa terlewati. Hepi hepi saja sih. Sampai-sampai, delapan hari ini terlewati begitu cepat. Secepat viralnya orang garut itu.

Latar belakangan kami berbeda. Misalnya saja dari kegemaran. Ada yang suka karate ada juga yang silat bahkan gulat. Serius.

Uniknya, perbedaan itu berhasil dikompromikan. Semua bersatu padu. Kalau saya analogikan, guru-guru yang dikirim disini seperti unsur-unsur kimiawi.
Anggap saja ada yang jadi hidrogen. Ada juga yang menjadi oksigen. Semua unsur bersatu padu menjadi H2O, yaitu air. Inilah makna guru inti.

Guru inti harus bisa bermanfaat bagi siapapun dimanapun dan dalam bentuk peran apapun. Seperti air, dimana setiap bentuk perubahan zatnya selalu memberi manfaat.

Mungkin kami, karena masih muda sering seperti es. Kalau sudah punya keyakinan menjadi kaku dan keras. Keyakinan yang sudah membeku seperti ini namanya idealisme.

Idealisme yang membatu menjadi es sangat merepotkan. Banyak status quo yang terganggu. Tapi idealisme juga menjadi kesegaran bagi sebagian orang ketika berhadapan pada dunia yang kian pragmatis dan materialis.

Namun, benturan idealisme yang dulu pernah menerpa kami membuat kami lebih dewasa. Tidak selamanya idealisme harus berbentuk es yang keras. Kadang harus mencair juga.

Kumpulan guru inti ini pun mencair menjadi es menyesuaikan bentuk. Jalur aliran tetap kami lewati. Namun "keli" belum tentu "ngeli." Kini kami luwes saja ketika harus mengikuti arus dunia. Kompromi dengan hal-hal yang kalau berbenturan malah jadi remuk.

Akan tetapi ternyata aliran air ini tidak begitu nyaman juga. Tahu kalau remuk akan terjadi jika ketika mengalir berubah jadi es, maka kami memanaskan diri.

Panas karena hasrat muda untuk berubah menjelma kami menjadi uap air. Dimana uap air ini memiliki karakteristik tidak mudah dilihat namun dirasakan.

Uap air ini kemudian didinginkan menjadi embun. Terbang tinggi menjadi awan kadang sesekali menyambut orang di pagi hari menjadi embun pagi.

Sembari memberi kesegaran di pagi hari, kami sedang bergumpal, bergabung menjadi satu. Menyesuaikan diri mempersiapkan kebermanfaatan layaknya hujan yang menghidupi.

Entah kapan hujan itu terjadi. Yang pasti, setiap orang disini memiliki project, orientasi dan komitmen agar supaya bermanfaat bagi orang lain.

Mari kita tunggu hujan itu terjadi. Yang pasti, guru inti harus bermanfaat bagi orang lain. Menyesuaikan keadaan layaknya air dan segala perubahannya. Sampai jumpa di lautan kebermanfaatan.

Comments

Baca Juga