Musyda ke-17 yang bertempat di SMK Muhammadiyah 2 Muntilan telah menggunakan sistem e-voting. Teknisnya, setiap peserta musycab mendapatkan satu token unik yang nantinya dimasukkan dalam aplikasi.
Aplikasi yang konon dikembangkan oleh kader dari Sukoharjo ini mengharuskan peserta memilih sebelas nama. Bila kurang dari sebelas nama, menu "vote" tidak akan muncul. Begitu pula kalau memilih lebih dari sebelas akan muncul peringatan.
Panitia pemilihan menyediakan enam laptop dimana satu laptop digunakan untuk server. Lima laptop digunakan peserta musyda untuk memilih. Praktis memang. Hasil tidak perlu dihitung secara manual.
Kekurangannya lebih pada butuh waktu lama untuk antri laptop. Bayangkan, ada 260 pemilih dan hanya ada 5 laptop. Butuh 52 putaran agar semua memilih. Kalau satu putaran butuh waktu rata-rata lima menit, maka butuh waktu 260 menit atau setara empat jam dua puluh menit.
Solusi untuk pengembang adalah e-voting berbasis BYOD (Bring Your Own Device). Dimana e-voting berbasis BYOD menggunakan perangkat pribadi yang dibawa oleh peserta musyda. Bisa menggunakan smarphone, tablet atau laptop.
Bayangan saya, BYOD lebih praktis. Prosesnya juga bisa lebih cepat. Tanpa antri perangkat. Panitia pun lebih ringan karena tidak harus menyediakan banyak laptop.
Intinya, usaha penggunaan e-voting sudah sesuai dengan tagline Muhammadiyah, yaitu berkemajuan. Pemanfaatan teknologi terbukti mampu mengefisiensikan dan mengefektifkan kegiatan. Akan tetapi optimalisasi dengan BYOD juga perlu dipertimbangkan.
